Wednesday, 9 January 2013

masjid agung palembang

Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 10 jam dari Bengkulu, akhirnya Tim Sumatera 3 tiba juga di Palembang. Menghabiskan malam di jalanan, kami sampai di Bumi Sriwijiaya pada pagi hari.
Perhentian pertama kami adalah Masjid Agung Palembang. Masjid yang terletak tak jauh dari Jembatan Ampera ini kami jadikan start point untuk mengamati hiruk-pikuk Kota Palembang. Saya pikir kondisinya seperti Bandar Lampung atau Bengkulu, yang jalan-jalan kotanya tidak begitu besar dan terkesan 'kecil' bagi saya jika pembandingnya Jakarta dan Surabaya.
Tapi, kesan pertama saya tentang Palembang adalah kota ini metropolitan juga. Bahkan, Palembang dicanangkan untuk menjadi International City. Saya pun baru tahu kalau Palembang memang kota kedua terbesar di Sumatera setelah Medan. Tidak perlu dikerutkeningkan.
Saya masuk ke dalam areal masjid terbesar di Palembang ini. Mengagumi menaranya yang menjulang dengan ketinggian 30 meter dan berdiameter 3 meter. Menara yang pertama kali dibangun pada 1753 ini berada di bagian kiri masjid arah selatan (Jalan Merdeka).
Ujung menaranya berbentuk melengkung, mirip ujung menara sebuah klenteng. Pengaruh arsitektur Cina ini juga tampak pada puncak Masjid Agung yang berupa atap mustaka. Rupa mustaka yang menjurai, melengkung ke empat ujungnya ini, akan mengingatkan siapa pun pada bangunan khas China. Menara kedua yang berbentuk persegi dibangun pada 2 Januari 1970 dengan ketinggian 45 meter. Biaya pembuatannya ditanggung oleh Pertamina dan diresmikan pada 1 Februari 1971.
Setelah membasuh muka dengan air keran yang menyegarkan, saya keluar dari gerbang masjid yang arsitekturnya dibumbui oleh gaya Eropa. Pintu masuknya besar dan tinggi dengan warna cat kuning telur. Gerbang utama yang saat itu tergembok diapit oleh dua gerbang di sisi kanan dan kiri yang berukuran lebih kecil. Pagi itu, saya jumpai hanya gerbang di sebelah kanan yang dibuka.
Masjid yang telah berusia 263 tahun ini aslinya bernama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo ini. Tak lain karena dialah yang mendirikan masjid yang konon terbesar di Nusantara saat itu. Pembangunannya berlangsung kurang lebih 10 tahun, yakni sejak 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M) hingga 28 Jumadil Awal 1161 H (1748 M).
Bangunan utama Masjid Agung tetap dipertahankan keasliannya hingga kini. Sebagaimana masjid dan bangunan kuno bersejarah lainnya, perbaikan demi perbaikan pun dilakukan. Sejak tahun 2000 masjid ini direnovasi dan selesai pada 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.
Masjid yang berlokasi di pusat Kota Palembang, tepatnya di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, ini  tak jauh dari Benteng Kuto Besak,  Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Monumen Ampera, dan Jembatan Ampera. Cukup dengan berjalan kaki, Anda bisa mendatangi semua tetenger Palembang ini.
Jika lelah melanda, mampirlah di kedai-kedai makanan yang tersebar di sekitar masjid. Beragam kuliner khas Palembang akan mudah Anda temui.

@normakartika

jakarta kupang

Bagi Anda yang belum pernah ke Kupang, saya akan menjelaskan rincian perjalanan menuju ke sana via udara. Saya memulai perjalanan menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta ke bandara El Tari, Kupang. Nama bandara tersebut diambil dari nama Gubernur pertama Kupang.
Kami menggunakan pesawat Garuda dengan biaya tiket pada tanggal 20 Oktober 2011 satu kali penerbangan sekitar Rp1.400.000,00 plus biaya airport taksi Rp40.000,00. Pesawat berangkat pada pukul 7.30 WIB tepat, dan transit di Denpasar, ditempuh dengan waktu 1 jam 31 menit. Jarak tempuh menggunakan pesawat antara Jakarta dan Denpasar adalah kurang lebih 1.120 km.
Kami transit di Denpasar sekitar 25 menit, lalu perjalanan dilanjutkan dari Denpasar ke Kupang, ditempuh dengan waktu 1 jam 22 menit dan jarak tempuh Denpasar-Kupang kurang lebih 950 km. Jadi, total waktu perjalanan dari Jakarta ke Kupang adalah 3 jam 18 menit dan total jauh perjalanan adalah sekitar 2.070 km. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Kupang adalah 1 jam lebih cepat dan suhu di Kupang pada saat kami datang adalah 34 derajat celcius.

@normakartika

malam di kampung ciptagelar

Ada yang unik ketika kami mendatangi Kampung Ciptagelar. Yakni disetiap malam ke-14 jelang bulan purnama, warga kampung Ciptagelar menyelenggarakan pentas syukuran. Berbagai acara digelar untuk menghibur warga sekitar. Seperti sajian Jaipongan, pertunjukan wayang, pagelaran musik angklung, hingga musik dangdut.

Semua warga menyatu dalam hiburan tersebut dan bersukacita. Hiburan rakyat itu sendiri merupakan bentuk syukuran warga kasepuhan Ciptagelar atas segala bentuk rahmat dan karunia yang mereka dapatkan, salah satunya adalah hasil panen warga dalam bidang pertanian.
Dalam setahun, warga kasepuhan Ciptagelar menyelenggarakan syukuran sebanyak 12 kali disetiap malam jelang bulan purnama. Jadi, merasa sangat beruntung ketika berkunjung ke Ciptagelar pada momen-momen seperti itu.
Kehidupan malam di Ciptagelar tidak jauh beda dengan kehidupan malam didesa-desa lainnya, maupun yang dikota-kota besar, hanya saja unsur budaya, adat dan tradisinya saja yang ditonjolkan. Warga Ciptagelar sendiri masih memegang keras budaya dan adat yang diwariskan leluhurnya yang budaya timurnya masih kental.

Meskipun kehidupan malam di Ciptagelar sangatlah unik dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya apalagi di kota-kota besar, tapi adat sopan santunnya masih sangatlah terasa. Setiap kali bertemu, saling tegur sapa selalu bisa ditemui.
Jika anda berminat untuk melakukan penelitian tentang kampung adat, Ciptagelar bisa menjadi salah satu alternatif pilihan tentang kearifan lokal masyarakatnya

@normakartika

sate ayam paling enak

Jakarta - Aroma wangi sate ayam yang dibakar sungguh menggoda selera. Lezat empuk dagingnya dibalut bumbu kacang kental gurih. Apalagi disantap bersama lontong kenyal-kenyal empuk. Di Jakarta ada sederetan penjual sate ayam yang kondang. Mana ya yang paling mantap enak?

Sate ayam jadi salah satu ikon kuliner tradisional. Potongan daging ayam yang ditusuk dengan tusukan sate. Dibakar dengan olesan bumbu kecap hingga matang semerbak. Disajikan dengan cocolan bumbu kacang yang gurih pedas dengan irisan lontong sebagai pendampingnya.

Di Jakarta, ada beberapa pedagang sate ayam yang banyak direkomendasikan. Konon, sate ayamnya lezat dan bikin puas. Detikfood mengantongi tiga nama, yaitu sate ayam Barokah di jalan Wolter Monginsidi, sate ayam RSPP, juga sate ayam pak Heri di jalan Sabang. Hmm, mana ya yang paling menggoyang lidah?

Destinasi pertama adalah sate ayam Barokah yang populer disebut sate Santa. Beruntung, detikFood jadi pembeli pertama dan tak antri lama. Seporsi sate ayam isi 10 tusuk plus irisan lontong di warung sate ini bikin takjub. Irisan dagingnya gendut-gendut, sekitar dua kali dari sate ayam umumnya.

Yang menarik, tak ada sisa bakaran berlebihan pada permukaan sate. Tampak dagingnya sudah kecokelatan dan tidak dibiarkan terlalu lama di atas bara api. Disajikan dengan irisan lontong berwarna kehijauan dan disiram bumbu kacang yang cokelat kental.

Saat digigit, dagingnya empuk dan masih juicy di bagian dalam. Tentu tekstur ini dihasilkan dari proses pembakaran yang tak terlalu lama dan matangnya pas. Makin istimewa saat disuap dengan irisan lontongnya yang padat dan legit. Sepuluh tusuk sate Santa seharga Rp 17.000 ini benar-benar bikin puas kekenyangan! Ah, tak heran jika warung sate ini tak pernah sepi pembeli.

Buruan kedua adalah sate ayam H. Romli, yang dikenal dengan nama sate ayam RSPP. Tak sulit menemukan lokasinya, karena asapnya yang mengepul terlihat hingga ke jalanan. Melihat antrean yang sudah mengular, kamipun langsung memesan dan mencari tempat duduk.

Sepuluh tusuk sate ayam (Rp 17.000) tak lama diantar. Tampak titik-titik hitam bekas bakaran di permukaan irisan daging. Ukuran potongan dagingnya standar, sekitar satu ruas jari. Disiram dengan bumbu kacang cokelat yang sedikit lebih encer, irisan lontong, dan sambal rawit di sisinya.

Hmm... dagingnya terasa lembut, legit, dan masih menyisakan tekstur empuk juicy. Agaknya karena bumbu olesan satenya yang lumayan banyak membuat rasanya jadi gurih manis. Sesekali lidah masih menemukan bagian lemak di permukaan dagingnya. Satenya pas disantap dengan lontong yang tak terlalu padat. Makin lengkap dengan taburan bawang goreng yang renyah wangi!

Incaran selanjutnya adalah sate Pak Heri di jalan Sabang. Dibanding dua pesaingnya, sate Pak Heri ini lebih nyaman untuk disinggahi. Tak ada kepulan asap berlebihan ke arah pembeli seperti di dua tempat sebelumnya. Di sini juga lebih banyak menu pilihan.

Lain pedagang lain racikan, sate ayam Pak Heri (Rp. 17.000/10 tusuk) cenderung lebih kering dan dibakar agak lama. Terbukti dari jejak warna hitam di permukaannya yang lumayan banyak. Mungkin ini karena banyak selingan potongan lemak pada daging satenya. Seporsi sate ayam disajikan dengan irisan lontong dan bumbu kacang di bagian bawah yang jumlahnya tak banyak.

Begitu gigitan pertama, langsung tercecap teksturnya yang lebih keras. Ukuran dagingnya tak beda jauh dengan sate ayam RSPP, dan jelas tersisip bagian lemak di dalam rangkaian tusukan sate. Bumbunya diletakkan di dasar piring membuat rasanya tak semeriah dua pesaingnya.

Setelah mencicipi ketiganya, tak sulit untuk menentukan mana yang paling enak. Sate ayam Barokah atau sate Santa terasa paling enak. Ukuran dagingnya lumayan besar, rasanya empuk lezat, plus bumbu kacang yang kental gurih. Dengan harga Rp 17.000/10 tusuk, sate ayam ini jadi rekomendasi kami. Bagaimanapun, tentu Anda punya pilihan pribadi, mana sate yang rasanya paling jempolan dan patut disambangi.


Sate Ayam Barokah
Khas Madura (Sate Santa)
Jl.Wolter Monginsidi
Jakarta Selatan

Sate H. Romli
Jl. Kyai Maja No.21, Kebayoran
Jakarta Selatan (depan RSPP)

Pondok Sate Pak Heri
Jl. K.H Wahid Hasyim
Jakarta Pusat

@normakartika

chef

Bobby Flay merupakan salah satu selebriti chef dari Amerika. Sajian kuliner lezatnya selalu menjadi inspirasi banyak orang. Tidak hanya membeberkan resep andalannya, ternyata pola hidup sehatnya juga dibeberkan kepada banyak orang.

Dalam rangka peluncuran web terbarunya 'Bobby Flay Fit', Flay masih bersiap-siap untuk menyiapkan tips gaya hidup sehat yang selalu diterapkannnya. Dengan harapan banyak orang yang tertarik untuk membaca web terbarunya ini.

Ternyata ia cukup ketat untuk menentukan makanan yang akan dimakannya saat sarapan dan makan siangnya. Tapi tidak ada pantangan untuk makan malamnya.

“Saya makan yogurt dengan topping berries dan madu untuk sarapan, salad dan sandwich untuk makan siang dan makan malam. Tapi itu tergantung dengan menu makanan yang ada saat itu. Nmun cenderung lebih ketat untuk menentukan menu saat sarapan dan makan siang dibandingkan dengan makan malam.” imbuh Flay.

Di dalam webnya nanti, Flay juga akan berbagi tips mengenai bagaimana untuk mulai menyajikan makanan sehat dirumah, selain itu juga ada tips mengontrol porsi makan di malam hari.

kuliner

Wah, di saat udara dingin siang ini paling afdol tentu makan yang hangat dan pedas. Hidangan khas Sulawesi Utara di rumah makan ini bahkan bisa bikin keringat meleleh. Ada ayam rica, ikan woku plus sambal dabu-dabu yang pedas segar menggigit. Wuih, sedapnya!

Hidangan Manado sangat terkenal dengan rasanya yang pedas dengan sesnsasi asam. Karena itulah membuat banyak penyuka rasa pedas menggemari hidangan ini. Karenanya untuk menepis udara dingin, kami bersantap siang di restoran Pingkan Masakan Manado yang berada di kawasan Duren Tiga Raya.

Bangunan restorannya mungil dan tak jelas terlihat dari jalan. Papan nama restorannya berwarna biru dan merah, bertuliskan “Pingkan Masakan Manado Halal”. Memang benar resto ini sudah mengantongi sertifikat halal dari LPPOM-MUI, bukti jelasnya ditempel pada dinding depan pintu masuk restoran.

Hampir semua hidangan Manado populer ada di daftar menu. Mulai dari beragam ikan bakar, woku balanga, rica-rica, sayuran tumis, bakwan jagung hingga kue-kue Manado dan aneka minuman. Berhubung perut lapar maka kamipun memesan perkedel jagung, dabu-dabu, ayam rica, tenggiri woku dan bunga pepaya.

Empat buah perkedel jagung yang hangat jadi pembuka. Digoreng garing hingga kekuningan, biji jagung manisnya renyah berpadu pas dengan adonan tepung yang lembut hangat. Wuih.. makin dahsyat saat dicocol dengan dabu-dabu lilang. Sambal khas ini berisi potongan tomat muda, bawang merah juga cabai rawit merah dan hijau yang asam segar.

O, ya di rumah makan ini kalau ingin rasa pedas yang dahsyat bisa memesan tambahan cabai. Ikan tenggiri woku (Rp. 20.000) disajikan dengan porsi 1 orang. Ikannya berupa potongan sedang, direndam kuah berwarna kuning. Aroma harum dari kemiri, sereh, daun jeruk, daun kunyit dan kemangi tajam. Kuahnya yang encer terasa gurih ini makin mantap disupa dengan nasi pulen hangat. Nyam-nyam!

Wah, tampilan Ayam rica-rica nya (Rp. 17.000) sangat menggiurkan. Ditutupi sambal yang royal dengan genangan sedikit minyak berwarna oranye kemerahan. Ayamnya terasa empuk garing. Benar saja dugaan kami, rasa pedas menyengat langsung terasa saat ayam dan bumbunya mendarat di lidah. Ini yang justru makin bikin kami semangat menyantapnya.

Apalagi ditemani garo bunga pepaya (Rp. 15.000) yang tampil cantik. Rasa bunga pepaya renyah, sedikit pahit tidak terlalu terasa. Justru cenderung lebih gurih, sengatan pedas yang berasal dari cabai rawit merah yang diulek kasar dan diaduk dengan bunga pepaya ini.

Tak terasa keringat meleleh di dahi dan leher dan badan terasa hangat segar. Pedasnya cabai masih melekat dahsyat di lidah. Untung saja segelas es kacang merah yang disiram susu cokelat bisa meredakannya. Kacang tanah yang empuk legit dengan es serut yang royal jadi penumpas rasa panas di lidah. Wah, sedapnya makan siang kali ini!

pinguin

Di seluruh dunia terdapat 16 spesies penguin[1] tergantung pada apakah dua spesies Eudyptula dihitung juga sebagai spesies. Walaupun seluruh jenis penguin awalnya berasal dari belahan bumi selatan, namun penguin tidak hanya ditemukan di daerah dingin atau di Antartika saja. Terdapat tiga spesies penguin yang hidup di daerah tropis. Salah satu spesies hidup di Kepulauan Galapagos (Penguin Galapagos) dan biasanya menyeberangi garis khatulistiwa untuk mencari makan.
Spesies penguin terbesar adalah Penguin Kaisar (Aptenodytes forsteri) dengan tinggi mencapai 1,1 meter dan berat 35 kilogram atau lebih.
Spesies penguin terkecil adalah Penguin Peri (Eudyptula Minor) dengan tinggi sekitar 40 cm dan berat satu kg. Secara umum, penguin yang berukuran besar lebih dapat mempertahankan suhu tubuhnya sehingga dapat bertahan di daerah dingin, sementara penguin yang berukuran lebih kecil biasanya ditemukan di daerah yang lebih hangat bahkan daerah tropis.
Umumnya penguin memakan krill (sejenis udang), ikan,[1] cumi-cumi dan hewan air lainnya yang tertangkap ketika berenang di laut dengan paruhnya. Penguin dapat meminum air laut karena kelenjar supraorbital pada tubuhnya menyaring kelebihan garam laut dari aliran darah. Garam ini lalu dikeluarkan dalam bentuk cairan lewat saluran pernapasan penguin.
Penguin terlihat tidak takut dengan kehadiran manusia. Mereka akan mendekat pada kelompok peneliti yang sedang mempelajari mereka.
Namun satu bentuk pertengkaran besar antar penguin akan terjadi jika seekor ibu penguin kehilangan anaknya (karena tidak bisa bertahan dalam badai besar atau dimakan oleh hewan pemangsa). Jika seekor anak hilang, maka ibu penguin akan "mencuri" seekor anak penguin dari ibu penguin yang lain. Tingkah laku ini menarik perhatian ilmuwan. Menariknya, penguin-penguin betina lain dalam kelompok penguin tersebut tidak menyukai "pencurian" ini dan akan menolong dan "membela" ibu penguin yang anaknya dicuri.
Tubuh penguin sangat sesuai untuk berenang dan hidup di air[1]. Sayapnya merupakan pendayung dan tidak mampu untuk terbang. Di daratan penguin menggunakan ekor dan sayapnya untuk menjaga keseimbangan ketika berjalan.
Setiap penguin memiliki warna putih di sebelah dalam tubuhnya dan warna gelap (biasanya hitam) di sebelah luar tubuh. Hal ini berguna untuk kamuflase. Hewan pemangsa seperti singa laut dari dalam air akan sulit untuk melihat penguin karena perutnya yang berwarna putih bercampur dengan pantulan permukaan air laut. Sedangkan permukaan gelap pada punggungnya juga menyamarkan penguin dari pandangan hewan pemangsa di atas air.
Penguin mampu berenang dengan kecepatan 6 hingga 12 km/jam bahkan pernah tercatat hingga 27km/jam. Penguin yang berukuran kecil biasanya menyelam selama satu hingga dua menit dari permukaan air untuk menangkap makanan. Penguin yang berukuran lebih besar, yaitu penguin emperor bisa menyelam lebih dalam hingga 565 meter selama 20 menit.